Minggu, 31 Juli 2016

Pengalaman : Gagal Lolos SNMPTN SBMPTN dan UM? Tenang, Lo Bukan Satu-satunya

SNMPTN, SBMPTN, UM.


Bagi orang yang pernah jadi siswa SMA/SMK/ MAN/yang sederajat, kemungkinan besar pernah kenal sama tiga subjek ujian di atas. Buat banyak orang yang berencana untuk meneruskan studi ke dunia kuliah itu kaya tiga singkatan sakral yang meski namanya berubah-ubah dari masa ke masa—contohnya SNMPTN yang dulu pas zaman bokap nyokap gue disebut dengan PMDK—ketiga singkatan itu punya satu maksud dan tujuan yang sama; Seleksi untuk Jadi Mahasiswa di Perguruan Tinggi Negeri.

Biasanya, ketika lo menjadi seorang siswa kelas 12, lo akan mulai memikirkan matang-matang rencana lo untuk kuliah, lo akan mulai menunjuk dan menetapkan jurusan-jurusan serta universitas negeri mana yang lodan atau mungkin orang tua loimpi-impikan, lalu lo akan memasuki yang namanya masa-masa struggling untuk mencapai PTN impian lo itu dengan berbagai cara; dari mulai ningkatin nilai semester ganjil agar layak bersaing di jalur undangan, negosiasi sama temen yang punya tujuan univ dengan jurusan sama persis kaya lo biar kalian nggak 'saling membunuh', konsultasi heboh sama guru BK, dan ditutup dengan mengisi borang SNMPTN. 

Start dimulai dari si SNMPTN ini, dan setelah muncul pengumuman hasil seleksi, biasanya polanya selalu sama;
1. SNMPTN (undangan) :
 - bagi yang lolos sesuai dengan yang dikehendaki akan bergembira, bersyukur, dan mulai nyiapin bingkisan sebagai tanda terimakasih buat wali kelas, dan bagi yang lolos tapi nggak sesuai kehendak akan mulai memutuskan untuk berjuang di SBMPTN atau UM atau maksa ngambil undangan dengan alasan 'yang penting kuliah dulu'.

2. SBMPTN (ujian tulis) :
 - bagi yang lolos kebanyakan akan memilih untuk maju terus pantang mundur, karena nggak pengen menyia-nyiakan kesempatan ini. meski akan ada juga yang memilih untuk nggak ngambil karena masih merasa kurang sreg dan memilih harapan lain; Ujian Mandiri.

3. Ujian Mandiri (UM) (nilai SBM, ujian tulis) :
 - entah itu SIMAK UI, UTUL UGM, UM UNDIP, atau yang lain-lain, di tahap ini bagi lo yang lolos, silahkan lampiaskan rasa lega lo dengan cara apapun terseraaah karena ini adalah tahap ujung dari usaha lo untuk bisa masuk PTN dan lo akhirnya udah keterima dan akan lo ambil karena kemungkinan besar kesempatan buat menjumpai kata 'Selamat anda diterima sebagai MAHASISWA di Universitas bla bla..' nggak akan dateng dua kali.

Nah, itulah pola nasib bagi yang lolos yang biasanya terjadi.

Pertanyaannya, gimana dengan nasib yang nggak lolos??

Di entri pertama blog gue ini, gue akan membeberkan sebuah cerita tentang bukti nyata nasib  orang yang nggak lolos ketiga tahap seleksi ini dan bagaimana akhirnya orang ini mengambil keputusan tentang apa yang akan dia lakukan. 

Orang ini nggak lain adalah diri gue sendiri dan gue harap ada pelajaran yang bisa diambil dari sepenggal pengalaman ini, karena guru yang paling bijak adalah pengalaman :)

Sama kaya hampir semua anak kelas 12 lain yang ada di Indonesia, masuk PTN adalah hal yang paling gue inginkan dan gue jadikan sebagai tujuan utama pasca gue lulus SMA nanti. Berbagai macam struggle seperti yang gue sebutkan tadi gue lakukan untuk mencapai target gue menjebol masuk gerbang PTN melalui jalur undangan. Saat itu pilihan jurusan gue adalah Biologi UI dan Biokimia IPB. Alasan paling dasar gue memilih kedua itu adalah karena rata-rata nilai rapot gue memang tinggi di mata pelajaran biologi dan kimia. well, lo boleh ketawa, karena gue tau pola pilihan gue agak kurang 'strategis' karena gue saat itu sangat mengharapkan bisa jebol di IPB sementara gue taruh itu di pilihan kedua dan dengan lancangnya gue berpikir : 'Duh gimana kalo entar gue keterimanya malah di UI, gue pengen banget masuk biokimia wich is cuma ada di IPB.' seolah kaya gue udah pasti banget lolos. saat itu gue memang nggak memprioritaskan UI meski peluang gue sebagai putra daerah Depok biasanya (katanya) lebih besar buat kesana. biar cuma geser pinggang dikit ke Bogor, tapi gue pengen merasakan yang namanya jadi anak kos atau asrama. Banyak pula orang yang bilang kalo IPB itu peluangnya kecil jika dijadikan pilihan kedua. Gue sih cuek aja, lagipula itu kan masih kata orang, gue harus buktiin sendiri biar nggak penasaran.

Selama menempuh usaha menjelang jalur undangan ini, gue akui usaha gue nggak begitu besar karena gue yang memang berpembawaan santai saat itu, gue pun menganggap karena nilai rapot gue udah bagus di hampir tiap mata pelajaran yang bersangkutan dengan pilihan jurusan gue jadi nggak perlu terlalu khawatir. lagi pula ini adalah jalur undangan, jalur yang pola seleksinya 'misterius', kalo keterima syukur, kalo nggak ya udah biasa aja. 

Di tahun 2016 ini, pemerintah memberlakukan suatu sistem yang menggunakan dua tahap seleksi nilai untuk jalur undangan, seleksi pertama menentukan lo boleh ikutan daftar SNMPTN atau nggak, seleksi kedua menentukan lo lulus SNMPTN atau enggak. Tentu saja nggak semua orang bisa lolos seleksi pertama (buat apa ada seleksi ye kan kalo semua orang bisa lolos).
Dan setelah melampaui tahap seleksi pertama, gue menjumpai sesuatu yang sedikit mengejutkan, yaitu nomor NISN gue nggak bisa log in ke halaman SNMPTN, dan dari situ pun gue tau, gue nggak lolos seleksi tahap pertama. 
Temen-temen gue yang tau tentang hal itu agak kaget juga, sama kaya gue, karena itu seleksinya berdasarkan nilai rapot, (berdasarkan perkiraan awam gue) gue seharusnya bisa lolos karena rata-rata rapot gue mendekati angka sembilan, ranking gue juga masih termasuk sepuluh besar, gue dipilih untuk masuk kelas persiapan khusus buat UN, lebih dari cukup untuk minimal ikutan diseleksi. 
Akhirnya setelah gue konfirmasi ke pihak sekolah, gue mendapat penjelasan bahwa seleksi tahap pertama itu yang memilih juga bukan sekolah, tapi pihak SNMPTN-nya, dan untuk seleksi tahap pertama hanya dinilai dari enam mata pelajaran pokok yang sesuai sama jurusan SMA lo, karena gue MIPA jadi mata pelajaran pokoknya; B. Indo, B. Inggris, Matematika, Kimia, Biologi, Fisika. kaya UN. Jadi ternyata, nilai yang laincontohnya SBK, bahasa Jerman, dllmeskipun tinggi tetap nggak akan ngebantu, dan disitulah letak faktor gue nggak lolos, karena di enam mata pelajaran pokok di rapot gue, ada dua mata pelajaran yang nilainya konstan (nggak naik, nggak turun juga), dan itu tentunya membuat gue tergeser oleh temen-temen gue yang meski nilai keseluruhannya lebih kecil dari gue tapi nilai pokok mereka naik.

Ya udah lah, gue juga nggak terlalu berharap di undangan, akhirnya semenjak gue tahu gue nggak lolos seleksi pertama, gue fokus belajar buat SBMPTN, sampai-sampai gue nggak begitu peduli sama UN lagi (buku detik bahasa gue bahkan hampir kosong), saking gue bener-bener fokus buat ngejar perguruan tinggi negeri. Saat itu gue ikut bimbel juga di luar sekolah dan bimbel online, fokus pelajaran yang gue ambil pun paket persiapan SBM, jadilah yang melekat di otak gue soal-soal SBM, meskipun hasil TO gue masih belum terlalu bagus sih, paling tinggi hanya 600-an. 

Singkat cerita, masa-masa SMA gue pun berlalu, gue udah lulus dengan nilai yang cukup bagus menurut gue, nggak ada yang harus ngulang tahun depan dan rata-ratanya di atas tujuh. Saatnya memasuki masa liburan, meski itu jauh dari layak untuk disebut liburan. Gue masih fokus sama SBM dan gue mulai mengganti pilihan gue menjadi Biologi UGM dan Teknik Kimia UI, gue masih belom bisa move on dari biologi sama kimia, padahal banyak orang bilang pelajaran itu ngebosenin tingkat tinggi, yang satu harus ngafal, yang satu lagi harus ngayal (well, karena atom kan nggak bisa dilihat). Tapi gue cuek aja. Selama gue masih belajar pake otak gue sendiri, orang lain nggak perlu repot. 
Selama belajar mendalami soal-soal SBM, gue pun mendapatkan banyak tips dari para tutor gue, baik dari bimbel di luar, maupun bimbel online. 
Ini salah satu quote super yang gue dapet: 'Belajar itu adalah petualangan, bukan balap-balapan' 
Ya, mungkin beberapa dari lo ada yang tau dari mana quote itu berasal ;)

Hingga tiba waktunya SBMPTN, gue sebagai penghuni wilayah 1 mendapatkan tempat ujian di sebuah SMP di Tanah Abang. karena jauh dari Depok, gue berangkat pagi buta. sampai di lokasi, masih sepi ternyata, ruangan pun belum dibuka, yaudah untuk mengisi waktu akhirnya gue habiskan waktu buat belajar. memang semenjak belajar buat SBM gue itu jadi kaya orang yang  formula addict, sampai siang malam gue belajar hampir nonstop. padahal seharusnya gue nggak usah sekalap itu, karena dampaknya ternyata baru akan gue rasakan saat gue berperang di dalam ruangan satu jam kemudian. 

Lo tau apa yang terjadi saat ujian SBMPTN akhirnya dimulai? GUE TERBURU-BURU. Catatan buat lo, terlalu berorientasi dengan waktu itu nggak bagus. meskipun saat itu jam tangan gue wajib dilepas, mata gue nggak berhenti bolak balik ngelirik jam dinding, gue jadi nggak tenang. Karena gue nggak tenang, soal yang gue kerjain jadi sulit dan nggak meyakinkan untuk dijawab, sementara gue harus meminimalisir kemungkinan gue dapet nilai minus, alhasil, gue jawabnya cuma sedikit dan lama. kesan gue cuma satu kata buat hari itu : PAHIT. oke, emang lebay, tapi sebagai anak remaja yang baru pertama kali masuk ruangan SBM dan udah ngerasa gagal dari sejak mulai ngisi soal SAINTEK gue berhak punya kesan begitu.

Alhasil, ketika pengumuman SBMPTN keluar, gue sudah bisa menerima jika gue menemukan kata 'Maaf, anda tidak lolos SBMPTN' atau apapun itu katakata yang serupa, dan ketika gue log in, gue memang menemukan kalimat yang nyakitin itu. Ya man, gue nggak lulus SBMPTN, dan pikiran yang muncul di otak gue adalah; 'gimana reaksi orang tua gue kalo tahu hal ini.' Di kepala gue tiba-tiba muncul sekelebat bayangan orang-orang yang saat ini menemukan kata 'DITERIMA' di akun mereka, pasti ada yang lagi sujud syukur, ada yang lagi pelukan sama emak bapaknya, ada yang lagi teriak-teriak nggak jelas—itu tetangga gue, btw— yang lagi nangis, dan sebagainya. Sedangkan bayangan orang-orang yang nggak lolos yang muncul di benak gue adalah; ‘Gimana ini?’

GIMANA INI CARA GUE NGASIH TAU ORANG TUA?
GIMANA INI KALO GUE DIMARAHIN?
GIMANA INI KALO FASILITAS IDUP GUE DICABUT GARA-GARA GUE NGGAK FOKUS BELAJAR?

Setelah mengumpulkan segenap keberanian, gue akhirnya berterus terang dan ternyata reaksi orang tua gue agak di luar dugaan, karena respon mereka cuma: ‘Nggak lolos? Oh, yaudah nggak apa-apa.’
Nyokap gue bahkan mengatakan itu sambil tetap sibuk dengan group chatnya di HP. Oke.
Seketika bayangan tentang segala-fasilitas-hidup-gue-dicabut-dari-dunia-ini hilang begitu saja.
Kayanya emang gue aja yang terlalu khawatir. Atau kayanya gue aja yang lupa kalo nyokap bokap gue memang selalu bersikap 'setenang itu' ketika anaknya punya masalah yang menurut mereka nggak besar-besar amat. Ah kenapa gue bisa lupa ya? hehe.

Karena orang tua gue biasa-biasa aja, gue pun melakukan hal yang sama. Lagi pula gue masih menunggu pengumuman Ujian Tulis (UTUL) UGM. Waktu itu Ujian Mandiri yang gue ikuti hanya UTUL, sementara SIMAK UI yang hari ujiannya berbarengan UTUL jelas nggak gue pilih, alasannya tentu saja karena gue pengen merantau dan jadi anak kos. Untuk UTUL gue mengikuti ujian yang berlokasi di Universitas Nasional, Jakarta. Selama menjalani ujiannya, gue nggak se-nervous waktu SBMPTN, bahkan bisa dibilang gue rileks banget, mungkin efek dari soal-soalnya yang gampang dan hampir bisa gue jawab semuanya di beberapa mata pelajaran. Saat itu gue yakin sembilan puluh persen gue bisa diterima di UGM. Pilihan gue masih sama; Biologi dan kimia.

Akhirnya pengumuman UTUL tiba, gue ingat banget hari itu, tanggal 1 Juli 2016 jam delapan malam. Gue dengan muka datar duduk di depan layar, log in akun gue di website UGM, dan melihat tulisan apa yang muncul di depan mata gue. Setelah membaca kalimat yang muncul itu dengan seksama, gue hanya bisa terdiam, muka gue masih datar. Gue merasa deja vu. 

Ea, gue nggak lolos lagi.

Segera, tanpa ragu-ragu, gue turun dari kamar gue dan memberi tahu orang tua, saat itu mereka sedang nonton TV. Muka gue masiih datar ketika itu, berharap banget muka gue bisa lebih datar dari layar TV jadi orang tua gue bisa lebih respek, dan gue rasa usaha gue sedikit berhasil karena respon mereka adalah: ‘Nggak lolos juga? Yaudah, nggak apa-apa, belum rezeki, yang penting kamu udah berusaha’
Ada tambahan kata ‘Kamu udah berusaha’, dilanjut dengan bokap yang merangkul gue untuk duduk di sofa sambil nepuk pundak gue berulang kali. Dengan respon seperti itu, seenggaknya orang tua gue tahu gue udah berusaha semaksimal mungkin, serajin mungkin, tapi gue belum dapet juga, itu berarti memang bukan jalan anak mereka untuk dapet itu tahun ini.
Dan gue merasa bersalah karena gue nggak bisa memberikan kabar baik bagi mereka. Setelah duduk bersama bokap di sofa, gue udah nggak sanggup lagi memasang muka datar, mata gue memang fokus ke layar TV, tapi otak gue nggak bisa berhenti berpikir tentang pengumuman UTUL barusan, akhirnya, pertahanan gue pecah juga, mata gue mulai berair.

Kadang ya, ketika lo ngerasain kecewa, sedih, marah, nggak percaya, gelisah, dan shock dalam satu waktu yang sama setelah sekian panjang proses dan usaha yang lo lakukan, nggak ada reaksi yang lebih normal selain ngeluarin air mata—alias—nangis. Meski lo laki-laki, gue rasa lo nggak perlu malu, karena laki-laki juga manusia dan manusia punya air mata yang berhak untuk dikeluarin. Satu fakta yang gue dapet, nangis itu salah satu cara ampuh buat bikin perasaan lo lebih ‘plong’ dibanding teriak-teriak dengan kepala ditutup bantal, alih-alih perasaan lo jadi tenang yang ada malah lo kehabisan napas.

Walaupun bikin perasaan lebih ‘plong’, tapi nangis juga nggak baik kalo sampai berlarut-larut. Karena meskipun lo laki-laki yang boleh nangis, lo juga makhluk yang kuat dan tahan banting. Maka beberapa hari setelah pengumuman gue memutuskan untuk menghibur diri gue sendiri dengan pemikiran-pemikiran positif, gue belajar banyak dari segala perjuangan yang udah gue lakukan hingga ke titik ini. Ujung-ujungnya, gue malah jadi evaluasi diri.

Mungkin selama ini gue menimba ilmu hanya untuk mengejar nilai, jadi gue nggak mendapatkan ‘pengetahuan’ yang sebenarnya secara mendalam. Gue seperti lebih banyak menghafal dibanding banyak belajar. Selama ini yang ada di benak gue adalah ‘gimana caranya dapet angka sekian’ bukan ‘gimana caranya menanamkan ilmu ini, ilmu itu’. Akhirnya baru terbukti sekarang, nilai-nilai yang selama ini gue bangga-banggain—meski bukan norak atau pamer—ternyata nggak gitu berguna. Dengan nilai-nilai itu gue bahkan nggak lolos seleksi pertama SNMPTN. Miris. Nilai telah mengkhianati gue dan gue memutuskan untuk nggak lagi belajar untuk mengejar nilai semata. Gue bertekad untuk mendalami ilmu dengan sungguh-sungguh dan benar, lalu gue aplikasikan, dan dengan sendirinya nilai akan datang. Gue harap gue bisa melakukan itu setelah ini.

Oleh karena itu, gue nggak mau mengambil langkah dengan terburu-buru. Berulang kali teman-teman gue dan orang-orang terdekat lain menyarankan gue untuk nggak patah semangat dan mencoba ujian mandiri sana sini, dengan alasan gue masih punya kesempatan dan terlalu sayang umur kalo gue harus nunda kuliah, tapi gue menolak semua saran ujian mandiri itu. Terimakasih banyak atas respek itu, tapi bukan karena gue menyia-nyiakan kesempatan, hanya saja gue nggak mau apa yang gue lakukan setelah ini hanya sebagai ‘pelarian’.

Lo tau kan pelarian? Biasanya ketika lo putus sama pasangan lo dan mencari orang lain untuk dijadikan pelampiasan, itu disebut pelarian. Dan apa yang lo rasain? Paling nggak jauh-jauh dari kata ‘nggak tulus’. Sekarang gue mulai membayangkan jika gue terburu-buru mengambil keputusan untuk kuliah—meski di universitas dan jurusan yang bonafit misal—sementara hati gue masih nyantol di tempat yang gue inginkan, gue mungkin akan menjalaninya dengan setengah-setengah. Ditambah lagi selama menunggu liburan, gue sama sekali meninggalkan aktivitas belajar dan gue yang baru menyadari pola belajar gue salah selama ini tentunya nggak mau mengulang hal yang sama di ujian mandiri lain. Ada begitu banyak pemuda di negeri ini yang menyesal karena mengambil keputusan yang salah untuk kuliahnya, dan gue nggak mau jadi salah satu dari mereka. Untuk itu gue putuskan gue akan menunda kuliah gue dan mencoba lagi tahun depan.

Yap, gue akan mengambil ‘Gap year’.

Dan siapapun itu yang bilang ‘terlalu sayang umur kalo nunda kuliah, nanti ketuaan, dan sebagainya’, gue tekankan sekali lagi quote yang gue ambil dari tutor gue;

LEARNING IS A JOURNEY, NOT A RACE.’

Kalo niat lo adalah ingin belajar dan terus belajar, maka umur nggak akan jadi penghalang lo, dan lo nggak perlu takur ketinggalan sama siapapun karena lo tau dalam belajar itu nggak harus terburu-buru. Man, please, ini ilmu bukan F1. 

Ada banyak hal yang bisa lo lakukan selama menunda kuliah lo, siapa yang tahu kita bakal kaya gimana dan jadi apa besok. Mungkin selama setahun ini lo akan bosen denger kata ‘Kuliah dimana jadinya?’, ‘Oh, belum dapet,’ dan ‘Semangat ya!’ sampai kadang lo jadi kesel sendiri, tapi mungkin ketika tahun depan tiba, lo akan bilang ‘Gue kuliah disini..’ dengan bangganya. Nggak ada orang yang tahu apa yang akan terjadi.

Dan dengan ketidaktahuan itu, gue makin ingin jadi manusia yang selalu berusaha dan percaya kalau mimpi gue pasti bisa gue raih, selama gue menghargai ilmu yang gue dapat dan diri gue sendiri.

Segitu aja. Semoga ada sedikitnya satu manfaat yang bisa diambil dari tulisan gue ini. Sekian J


#edisimelankolis #malammalamdidepanlayar #notinjovian  #itsokaytocomment